Memanfaatkan Keutamaan Ramadhan

15 Agu

Oleh: Drs. H. Anwar Yasin
(Anggota F-PKS DPRD Jawa Barat)

 “Apabila tiba awal malam bulan Ramadhan, maka syetan-syetan dan jin yang durhaka dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintupun yang dibuka, pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satu pintupun yang ditutup, lalu (malaikat) penyeru menyerukan, ‘Wahai orang yang menghendaki kebaikan, datanglah. Wahai orang yang menghendaki kejelekan, berhentilah. Hal itu (terjadi) pada tiap malam.”                  (Shahih Ibnu Majah : 1642)

 Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang kembali mempertemukan kita semua dengan bulan suci Ramadhan. Bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan penuh keberkahan. Karena keutamaannya, seringkali Rasulullah mengingatkan dalam berbagai hadits untuk memanfaatkan setiap momentum di bulan suci Ramadhan dengan memperbanyak amal ibadah dan kebaikan.

Salah satu sabda dari Rasulullah adalah bahwa pada bulan Ramadhan, syetan-syetan dan jin yang durhaka akan dibelenggu. Jika pada bulan yang lain banyak manusia yang bermaksiat dan berbuat dosa karena dorongan dan godaan syetan, maka di bulan suci Ramadhan ini gangguan tersebut dapat teratasi. Kaum muslimin yang melaksanakan ibadah puasa dapat dengan leluasa mengoptimalkan segenap waktunya untuk beribadah dan mengerjakan amal kebaikan.

Sebuah Realita

Namun dalam kenyataannya, masih banyak terjadi tindakan maksiat dan juga kriminalitas di tengah masyarakat. Di bulan suci Ramadhan kita masih melihat adanya tindak pidana korupsi, perzinaan, pencurian, penipuan, perjudian bahkan pembunuhan. Lantas apakah serta merta kita dapat memvonis bahwa Rasulullah berkata dusta dalam hadits ini? Apakah syetan-syetan dan jin yang durhaka itu tidak benar-benar dibelenggu sehingga bisa tetap menggoda manusia? Naudzubillahimindzalik. Maha Suci Allah yang telah membimbing Rasulullah dengan wahyuNya. Maka kemaksiatan yang tetap dilakukan oleh manusia di bulan suci Ramadhan merupakan murni berasal dari dorongan syahwat dan hawa nafsu manusia itu sendiri. Jadi tanpa godaan dari syetan sekalipun, seorang manusia pada dasarnya tetap memiliki potensi untuk berbuat maksiat.

Hal ini selaras dengan peringatan Allah dalam surat Asy-Syams ayat 8 yang berbunyi: “..maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya..”. Dalam ayat ini Allah bersumpah sebanyak sebelas kali pada tujuh ayat sebelumnya, dalam rangka menegaskan ayat ke delapan, yaitu potensi kefasikan dan potensi ketakwaan dalam jiwa setiap manusia. Dari ayat ini kita menjadi semakin paham bahwa beribadah atau bermaksiatnya seorang manusia, pada dasarnya murni merupakan pilihan dari dalam jiwanya. Di bulan lain potensi ketakwaan itu dapat terganggu oleh godaan syetan, namun di bulan suci Ramadhan ini, kita diberikan peluang yang besar untuk mengoptimalkan kebaikan dan amal ibadah lainnya karena syetan tersebut dibelenggu Allah SWT.

Selain itu, ibadah puasa juga dapat membantu kita untuk melatih diri menahan syahwat dan hawa nafsu. Dalam ibadah puasa, kita diperintahkan untuk menahan lapar dan dahaga, juga menahan syahwat, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Jika untuk kebutuhan mendasar ini saja kita dapat berhasil melewatinya, maka kita akan terlatih pula untuk menahan diri dari perbuatan dosa dan kemaksiatan yang dapat terlihat nyata, seperti mencuri, korupsi, berzina, bergosip, melakukan teror, membunuh, serta dosa-dosa lainnya.

Berkah Suasana Ramadhan

Selain berasal dari internal, godaan untuk bermaksiat juga seringkali datang dari wilayah eksternal, atau dalam hal ini biasa disebut lingkungan sekitar. Barang siapa bergaul dengan tukang minyak wangi, maka ia akan ikut terbawa wangi. Namun jika bergaul dengan tukang pandai besi, maka ia akan ikut tercemari bau besi dan percik api.

Berkah bulan suci Ramadhan adalah setiap orang secara bersamaan dikondisikan untuk menahan syahwat dan hawa nafsu, sehingga cenderung akan tercipta suatu suasana yang kondusif. Misalnya tempat hiburan ditutup, warung makan tidak berjualan, minuman keras disita dan tempat maksiat dirazia. Begitupun sebaliknya, tempat ibadah berlomba-lomba mengadakan pengajian dan kegiatan ibadah lainnya. Dengan suasana penuh berkah ini, maka setiap manusia yang berniat melakukan dosa dan maksiat, secara otomatis merasa malu, tersadar bahkan terhenti dari perbuatan maksiat tersebut.

Sebagai reward atau penghargaan atas ikhtiar menahan syahwat dan hawa nafsu tersebut, pada setiap malamnya Allah menutup seluruh pintu neraka dan membuka seluas-luasnya pintu surga. Hal ini dapat mendorong setiap manusia untuk berlomba-lomba beribadah agar dapat masuk ke dalam surga, dan juga memaksanya untuk sebisa mungkin menjauhi siksa neraka. Karena bukankan manusia cenderung termotivasi karena adanya faktor balasan berupa keuntungan maupun kerugian atas setiap amal yang telah dilakukannya?

Dalam sabdanya, Rasulullah juga menjanjikan bahwa “..barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan dan menegakkan (ibadah) dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka diampunilah dosanya yang telah lampau..”. Maka dengan datangnya bulan suci Ramadhan beserta seluruh keutamaan yang ada di dalamnya, sudah menjadi suatu kemestian bagi kita semua untuk memanfaatkan setiap momentum yang ada dengan memperbanyak amal ibadah secara penuh keimanan. Aktivitas ibadah tersebut antara lain shalat tarawih, tilawah Al-Qur’an, shalat berjamaah di masjid, memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Seluruh aktivitas ibadah tersebut tidak lain bertujuan demi mendapatkan berkah pahala serta luasnya ampunan dari Allah SWT di bulan suci Ramadhan. Wallahua’lam.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: