OPTIMALISASI SYUKUR DI BULAN RAMADHAN

6 Des

Oleh : DRS. H. ANWAR YASIN
(Anggota F-PKS DPRD Jawa Barat)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”               (QS Ibrahim : 14)

Makna bersyukur

Kata “syukur” adalah kata yang berasal dari bahasa Arab.  Kata ini  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia salah satunya diartikan sebagai rasa terima kasih kepada Allah. Dalam Al-Quran   kata  “syukur”  dengan  berbagai  bentuknya ditemukan sebanyak enam puluh empat  kali. Secara maknawi, syukur dapat  juga  diartikan  sebagai penyebab dan dampaknya, sehingga kata “syukur”  mengisyaratkan “siapa  yang  merasa  puas  dengan  yang sedikit, maka ia akan memperoleh banyak, lebat, dan subur.”

Kewajiban bersyukur atas nikmat Allah SWT

Bersyukur atas suatu nikmat dari Allah merupakan suatu kewajiban dan bagian dari keimanan seorang Muslim. Syukur nikmat merupakan suatu deklarasi keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta dan sumber segala nikmat yang terdapat di alam semesta ini. “..Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku..” (QS Al Baqarah : 152). Tidak hanya nikmat atas rezeki, usia, harta dan kesehatan, bahkan setiap kedipan mata, detak jantung, serta hirupan nafas merupakan nikmat yang tak terhingga jumlahnya. Allah dalam QS An Nahl ayat 18 menegaskan bahwa“..Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya..”.

Segala puji bagi Allah atas segala nikmatNya yang telah mempertemukan kita dengan bulan suci Ramadhan, bulan penuh rahmat dan ampunan. Momentum terbaik yang dapat melatih kita untuk semakin meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT. Maka, setiap ibadah yang disyariatkan seperti shalat, puasa, zakat dan haji merupakan sarana terbaik untuk mengungkapkan rasa syukur kita. Apalagi di bulan penuh berkah ini, setiap amal ibadah akan dilipatgandakan ganjaran pahalanya.

Cara Bersyukur

Menyadari betapa pentingnya kewajiban untuk bersyukur atas setiap nikmat dari Allah SWT, maka setidaknya ada beberapa cara untuk bersyukur. Cara yang pertama adalah bersyukur dengan hati, yaitu suatu bentuk syukur berupa kepuasan batin yang dilakukan dengan menyadari sepenuhnya bahwa nikmat  yang  diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan kemurahan kasih sayang Allah SWT. Syukur dengan hati  mengantar  manusia  untuk menerima  setiap anugerah  dengan penuh keikhlasan tanpa menggerutu dan keberatan sekecil apapun nikmat tersebut.

Salah satu nikmat terbaik yang Allah limpahkan di bulan suci Ramadhan ini adalah ketika tiba waktunya berbuka puasa. Lapar dan dahaga yang tertahan mulai dari terbit fajar, hilang seketika hanya dengan nikmat seteguk air dan sedikit makanan. Sungguh nikmat yang luar biasa yang wajib disyukuri oleh setiap orang yang berpuasa. Jika syukur dengan hati ini terpelihara dengan baik di bulan suci Ramadhan, maka dapat menghilangkan sifat iri dengki dari hati kita. Kita tidak akan panas hati atas setiap nikmat yang diberikan pada orang lain. Cukuplah Allah sebagai Dzat yang Maha Adil dan sebaik-baik pemberi nikmat.

Maka cara yang kedua untuk mensyukuri nikmat Allah adalah bersyukur dengan lisan, yaitu suatu bentuk syukur berupa pengakuan atas anugerah dan pujian kepada pemberi nikmat tersebut. Salah satu caranya adalah dengan mengucapkan “Alhamdulillah” yang mengandung arti bahwa segala puji bagi Allah. Setiap nikmat yang sampai kepada kita pada hakikatnya berasal dari Allah. Adapun manusia dan alam semesta hanyalah menjadi perantara atau sarana sampainya nikmat tersebut kepada kita. Maka sudah sepantasnya puji syukur hanya kita panjatkan kepada Allah SWT, sang Maha Pengasih dan Pemberi Nikmat kepada hamba-hambaNya.

Namun tidak cukup hanya bersyukur dengan hati dan lisan, syukur juga perlu diungkapkan dengan cara yang ketiga, yaitu bersyukur dengan amal. Bersyukur dengan amal dilakukan melalui pemeliharaan, pemanfaatan serta pemberdayaan anugerah yang diperoleh sesuai dengan tujuan pemberi anugerah tersebut.

Perwujudan bersyukur dengan amal tersebut antara lain adalah dengan melaksanakan amal ibadah seoptimal mungkin, berakhlaq mulia serta berbagi anugerah kenikmatan tersebut dengan orang lainnya. Manfaat bersyukur dengan amal ini sesungguhnya akan kembali kepada dirinya sendiri, bahkan Allah justru akan menambah nikmat tersebut.

Di bulan suci Ramadhan, Allah dan RasulNya menganjurkan kita untuk menjadi insan yang dermawan. Bahkan Rasulullah menjanjikan, bahwa barangsiapa yang memberikan makanan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka pemberinya akan mendapatkan pahala kebaikan dari orang yang berpuasa tersebut.

Selain itu, Allah juga menetapkan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah untuk dibagikan kepada golongan yang berhak, seperti golongan fakir miskin. Bersyukur dengan amal ini merupakan bentuk ketaqwaan kita atas perintah Allah dan juga sebagai bentuk solidaritas sosial kita kepada masyarakat yang kurang mampu.

Keuntungan Bersyukur

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah, pada dasarnya justru bermanfaat dan memberikan keuntungan pada diri kita sendiri. Allah berjanji dalam Al Qur’an surat Ibrahim ayat 14 : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Dr. Quraish Shihab menjelaskan bahwa suatu  hal  yang  menarik  untuk disimak dari redaksi ayat ini adalah kesyukuran atas nikmat dihadapkan  dengan  janji  yang  pasti  lagi tegas , yaitu pertambahan nikmat yang bersumber dari Allah secara langsung. Tetapi akibat kekufuran hanya merupakan isyarat dan peringatan tentang siksa, itu pun tidak  ditegaskan  bahwa  Allah  pasti  akan  menjatuhkan azab kepada orang yang tidak bersyukur.

Maka selain untuk menambah nikmat yang didapat, syukur nikmat juga wajib kita lakukan demi menghindari siksaan dari Allah. Sebagaimana azab yang dijatuhkan kepada Qarun dan kaum Saba karena tidak bersyukur alias kufur atas nikmat dari Allah. Sebuah pelajaran berharga atas lemahnya manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.

Setelah bertambahnya nikmat dan terhindarnya kita dari azab Allah, maka puncak tertinggi dari syukur nikmat adalah demi meraih keridhaan Allah. Keridhaan yang akan mengantarkan kita pada kemuliaan di dunia dan akhirat. Sehingga jangan sampai kita menyia-nyiakan kesempatan emas di bulan suci Ramadhan ini untuk meraih kemuliaan dan derajat taqwa dengan beribadah dan senantiasa berdoa: “Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai” (QS Al Ahqaf : 15). Wallahua’alam.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: