RAMADHAN BULAN TAUBAT

6 Des

OLEH : DRS. H. ANWAR YASIN
(Anggota F-PKS DPRD Jawa Barat)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..” (QS At Tahrim : 8 )

Tanpa terasa Ramadhan telah hampir sampai di penghujungnya. Belasan hari telah terlewati dengan berbagai aktivitas ibadah seperti shaum, shalat, tilawah, sedekah dan amalan lainnya. Namun ada satu hal penting yang jangan sampai terlewatkan di bulan suci Ramadhan ini, yaitu bertaubat atas dosa dan kesalahan yang telah kita lakukan selama hidup. Taubat yang dimaksud tidak hanya atas dosa yang besar, tapi juga dosa-dosa kecil yang sering kita tidak sadari telah melakukannya.

Secara bahasa, taubat didefinisikan dengan arti “kembali”. Sedangkan menurut istilah, taubat didefinisikan dengan makna kembali mendekat pada Allah setelah menjauh dari-Nya. Hakikat taubat itu sendiri adalah menyesal terhadap kesalahan dan perbuatan dosa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan dosa tersebut saat ini juga, dan bertekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut di masa yang akan datang.

Urgensi Taubat

Allah memerintahkan seluruh manusia untuk bertaubat. Bahkan Allah mengulang perintah untuk bertaubat tersebut sebanyak 87 kali dalam Al-Qur’an. Salah satu firmanNya adalah : “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” (QS An Nuur : 31). Dalam ayat yang lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya” (QS At Tahrim : 8). Taubat juga merupakan salah satu ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS Al Baqarah : 222).

Taubat ini tidak saja ditujukan kepada manusia biasa secara umum. Bahkan Rasulullah sendiri yang telah dijamin masuk surga bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali” (HR. Muslim). Jika manusia yang telah dijamin masuk surga saja bertaubat 100 kali dalam sehari, apalagi kita sebagai manusia biasa yang tidak ada jaminan masuk ke dalam surga?

Syarat Diterimanya Taubat

Berbuat dosa dan kesalahan pada dasarnya merupakan fitrah manusia. Karena iman manusia yang tidak stabil, bisa naik dan bisa turun, maka setiap manusia berpotensi melakukan khilaf dan dosa dalam aktivitas kesehariannya. Rasulullah memaklumi hal ini dengan sabdanya : “Semua anak Adam membuat kesalahan dan sebaik-baik pembuat kesalahan adalah mereka yang bertaubat” (HR Addarami).

Oleh karena itu, agar diri kita kembali bersih setelah melakukan dosa, maka aktivitas taubat ini harus dilakukan secara terus menerus dan memenuhi persyaratan. Syarat pertama diterimanya taubat adalah kita harus memahami dan menyadari dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Ada kesadaran yang jujur dari lubuk hati kita yang terdalam, bahwa perbuatannya tersebut tidak diridhai bahkan berpotensi dimurkai Allah SWT.

Setelah menyadari adanya perbuatan dosa tersebut, maka syarat kedua adalah menyesalinya dan bertekad tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di kemudian hari. Hal ini menjadi penting agar taubat kita tidak menjadi taubat sambal. Kita memahami dan menyadari bahwa sambal itu rasanya pedas dan membakar lidah, tapi kita tetap saja memakannya dengan nikmat. Begitupun dengan dosa dan kesalahan yang kita lakukan, jangan sampai kita tetap mengulanginya.

Sebagaimana kehidupan yang memiliki dua dimensi, maka dosa dan kesalahan yang kita lakukan pun pada dasarnya berdampak pada kedua dimensi tersebut, yaitu dimensi vertikal dan dimensi horizontal. Secara vertikal, kita melakukan dosa kepada Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Kuasa. Untuk dosa jenis ini kita dianjurkan untuk bertaubat dengan sepenuh hati dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Namun dalam dimensi horizontal, dosa dan kesalahan yang kita lakukan adalah kepada sesama manusia. Ada orang yang terluka karena perkataan dan atau perbuatan kita. Maka untuk dosa ini kita wajib melaksanakan syarat taubat yang ketiga yaitu menyampaikan permohonan maaf kepada orang yang kita dzalimi.

Permohonan maaf kepada orang yang kita dzalimi sangatlah penting, karena Rasulullah bersabda bahwa salah satu doa yang langsung diijabah atau dikabulkan oleh Allah adalah doa orang yang terdzalimi. Sehingga jika orang yang kita dzalimi tersebut mendoakan keburukan kepada kita, maka mungkin saja hal tersebut akan dikabulkan oleh Allah. Maka jangan sampai kita mendapatkan bencana atau kesulitan justru karena kesalahan kita sendiri yang gengsi meminta maaf karena telah mendzalimi orang lain.

Yang terpenting dari pertaubatan yang kita lakukan adalah melakukan perubahan sikap dan perilaku menjadi lebih baik. Dan momentum bulan suci Ramadhan merupakan saat yang paling tepat untuk memohon ampun kepada Allah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. Hal tersebut dikarenakan di bulan suci Ramadhan ada malam Lailatul Qadr, yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika saja ibadah dan taubat kita diterima oleh Allah di malam mulia tersebut, niscaya kita termasuk orang-orang yang beruntung. Maka jangan sampai kita menyia-nyiakan peluang bertaubat di bulan suci Ramadhan tahun ini. Karena tidak ada jaminan kita akan bertemu dengan Ramadhan di tahun yang akan datang. Wallahua’lam.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: