REORIENTASI SISTEM PENDIDIKAN

10 Sep

Oleh : Anwar Yasin

(Anggota F-PKS DPRD Jawa Barat) 

Beberapa waktu terakhir, beredar sebuah broadcast message yang cukup menggugah kesadaran. Isinya kurang lebih mengajak kita semua berubah untuk meraih kemajuan yang pesat. Pada bagian awal, disampaikan sebuah pertanyaan: ”Mengapa bangsa Australia yang leluhurnya berasal dari tahanan kriminal Inggris, namun kini mampu masuk 10 negara terbaik untuk tempat tinggal manusia, serta memiliki tingkat kriminalitas terendah di dunia?”

Kondisi tersebut kemudian dibandingkan dengan kondisi bangsa kita. “Mengapa bangsa Indonesia yang dulu leluhurnya adalah orang-orang yang santun, ramah dan berbudi pekerti luhur, serta berwatak gotong royong, namun kini masuk dalam kelompok Negara gagal di dunia? Negara gagal akibat masuknya Indonesia ke dalam daftar Negara terkorup di dunia. Bahkan diperparah dengan tingkat kriminalitas yang sangat tinggi serta moral yang sangat rendah?”

Ternyata salah satu penyebab terjadinya semua kesenjangan ini berawal dari sistem pendidikan yang diterapkan oleh Pemerintahnya. Para pendidik dan guru di Australia lebih khawatir jika anak-anak didik mereka tidak jujur, tidak mau mengantri dengan baik, tidak memiliki rasa empati dan hormat pada orang lain serta etika moral lainnya. Kekhawatiran ini bahkan lebih besar ketimbang kekhawatiran terhadap kemampuan anak dalam hal membaca, menulis dan berhitung.

Hal ini disebabkan menurut mereka, untuk membuat anak mampu membaca menulis dan berhitung atau menaikan nilai akademik, hanya dibutuhkan waktu 3 – 6 bulan saja dengan secara intensif mengajarkannya. Tapi untuk mendidik perilaku moral seorang anak, dibutuhkan waktu lebih dari 15 tahun untuk mengajarkannya.

Mengajarkan kemampuan baca tulis dan berhitung bisa di ajarkan kapan saja, bahkan setelah mereka sudah dewasa atau tua sekalipun. Sementara untuk mengajarkan etika dan moral waktunya sangat terbatas, dimulai saat mereka balita dan berakhir saat mereka kuliah. Selain itu,  untuk mengubah perilaku moral orang dewasa yang terlanjur rusak dan buruk, hampir sebagian besar orang kesulitan untuk melakukannya.

Mendidik anak-anak sangat mudah ibaratnya melukis di atas pasir, karena permukaannya yang lembut. Namun mendidik orang yang sudah tua seperti memahat di atas batu yang keras dan menyulitkan.

Pendidikan Karakter

Menyadari kenyataan tersebut, sudah sepantasnya kita melakukan reorientasi sistem pendidikan yang kini tengah diterapkan di Indonesia. Sistem pendidikan yang sebelumnya hanya berorientasi kepada nilai akademis, perlu digeser menjadi lebih berkarakter humanis. Pendidikan yang hanya berorientasi nilai akademis terbukti gagal memajukan kebudayaan dan peradaban bangsa.

Makin banyak orang pintar ternyata tidak selamanya berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan serta penurunan kriminalitas. Ambil contoh pelaku kasus korupsi, pada umumnya berpendidikan tinggi. Namun karena tidak memiliki karakter dan kepribadian yang baik seperti jujur dan bersih, maka korupsi tetap merajalela dan semakin menghancurkan bangsa.

Maka sistem pendidikan karakter mesti menjadi panduan dan arahan baru. Dalam pandangan penulis, setidaknya ada dua orientasi baru yang mesti diterapkan dalam sistem pendidikan karakter kita. Yang pertama adalah sistem pendidikan yang berkarakter keTuhanan. Apapun ilmu yang dipelajari dan setinggi apapun ilmu yang dimiliki, harus berujung pada sikap memuliakan Tuhan. Atau dengan kata lain, ilmunya harus mampu mendekatkan dirinya serta orang lain kepada Tuhan.

Hal ini disebabkan sistem pendidikan sekuler yang memisahkan nilai-nilai agama dan keTuhanan dari sendi-sendi kehidupan, justru semakin membuat kita terpuruk. Banyak orang yang mengaku beragama, namun dalam perkataan dan perbuatannya justru mencerminkan orang yang tidak berTuhan. Sebagiannya menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, dan sebagian yang lain berani melakukan perbuatan tercela seperti mencuri dan melakukan kekerasan. Intinya manusia menjadi semakin bengis dan beringas, serta tidak lagi memiliki rasa takut dan keyakinan pembalasan dari Tuhannya.

Kemudian yang kedua adalah sistem pendidikan yang berkarakter akhlaq mulia. Sedini mungkin anak-anak harus ditanamkan nilai-nilai kejujuran, disiplin, budi pekerti, serta sikap memuliakan sesama manusia lainnya. Tidak kalah pentingnya adalah mengajarkan budaya malu. Setiap anak harus merasa malu jika sampai melanggar aturan dan norma yang berlaku, bahkan berani untuk mempertanggungjawabkan kekhilafannya.

Sebagai penutup, terlepas dari siapa yang membuat dan menyebarkan broadcast message ini, penulis sangat bersyukur dan berterima kasih masih ada orang yang memikirkan nasib bangsanya. Jika seandainya Pemerintah, kalangan pendidik seperti guru dan dosen, serta para orang tua di bangsa ini menyadari urgensi serta mampu menerapkan sistem pendidikan karakter seperti yang disampaikan di atas, maka insya Allah 15 tahun yang akan datang, Indonesia masih bisa maju dan berdiri setara dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Wallahua’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: