Strategi Operasi Partai Kita; Mengokohkan Tarbawi, Menaklukan Medan Politik.

29 Apr

ImagePerbedaan kita dan mereka.

“Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“.

Tiga belas tahun sudah jamaah dakwah ini manapaki ganasnya medan perpolitikan tanah air, banyak sudah cobaan yang kita rasakan, kemenangan dan kekalahan kita sudah pernah sama-sama rasakan baik itu ditingkat nasional sampai dengan tingkat provinsi , kota dan kabupaten. Namun kita optimis dengan izin Allah kita dapat menyelsaikan setiap tantangan yang kita hadapi.

Publik bisa melihat bahwa partai kita dapat keluar dari permasalahan dengan cara yang sama sekali tidak pernah terbayang sebelumnya, masyarakat kita kaget bagaimana partai ini menyikapi badai karupsi impor sapi dan masih sempat memenangkan setidaknya empat pemilihan kepala daerah, mungkin persis dengan kagetnya kaum quraisy pada saat pertama kali menghadapi strategi perang parit yang diarsiteki oleh Salman Alfarisi.

Namun kita harus sepenuhnya sadar bahwa semua tindakan-tindakan luar biasa tersebut bukanlah prestasi-prestasi yang dibangun dalam satu malam, bahkan tidak juga dalam satu tahun. Seluruh keputusan keputusan jamaah kita itu dibangun lewat nafas-nafas panjang di setiap kelompok- kelompok usrah. Dikerjakan dengan rasa ikhlas yang dipupuk sedikit demi sedikit ketika halaqoh pertama dimulai.

Pembinaan ini lah yang membedakan partai kita dan partai tetangga, ketika partai kita harus mengganti president, kita sanggup melakukannya dengan tanpa menimbulkan gejolak yang berarti, sangat jauh dengan tetangga kita yang bahkan terkesan diharpakan untuk segera diganti karena dituding sebagai penyebab jatuhnya elektabilitas partai. Ini semua karena kita kenal tsiqoh sedangkan mereka tidak. Lebih tegasnya lagi, kita punya tarbiyah sedangkan mereka tidak.

Harganya harus kita bayar terus.

Sejarah mencatat bahwa salah satu sebab runtuhnya peradaban-peradaban besar di Dunia ini disebabkan keengganan generasi akhir yang tidak mau berjuang seperti para kaum pendahulunya, dan ini berlaku juga untuk kaum muslim. Perlu dan patut untuk diduga bahwa salah satu runtuhnya kemegahan islam dikarenakan generasi hari ini enggan membayar seperti generasi pendahulunya membayar peradaban gemilang melalui perjuangan yang sangat panjang yaitu dakwah wal jihad.

Cukuplah hadist tentang penyakit al wahn dibawah ini sebagai pengingat.

Sunan Abu Daud 3745: dari Tsauban ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk.” Seorang laki-laki berkata, “Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?” beliau menjawab: “Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn.” Seseorang lalu berkata, “Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?” beliau menjawab: “Cinta dunia dan takut mati.”              

Ketika virus Al wahn tersebut menjangkiti kita sebagai pejuang dakwah maka hilanglah kewibawaan kita, maka logika-logika dakwah dikebelakangkan, selalu dinomor sekiankan dan selalu mengedepankan logika-logika politik, komunikasi kita berubah menjadi komunikasi industrialistis menghilangkan empati dan cinta antara sesama.

Tidak ada lagi ukhuwah, ukuran kelapang dadaan sebagai ukuran minimal ukhuwah dan mendahulukan kepentingan saudara seperjuangan digantikan oleh perhitungan untung rugi. Pembicaraan menjadi hambar dan penuh intrik agar terlihat sempurna, karena siapapun yang diajak berbicara dianggap berpotensi menjadi musuh untuk mencapai kepentingannya.  Lalu bila ukhuwah dan cinta hilang dari partai ini apa yang tersisa dari kita? Yang tersisa adalah perebutan kepentingan pribadi, gesekan-gesekan personal yang berujung tercerai berainya barisan dakwah ini.

Begitulah, ketika kita menganggap bahwa pengorbanan dalam ber ushroh ini adalah kewajiban maka yang muncul ada generasi penurut syahwat politik dan pada saat yang bersamaan dangkal dalam berlogika dakwah.

 

Mengokohkan Usrah Sebagai Basis Utama.

Orang luar mungkin tidak percaya bahwa partai islam terbesar di Indonesia ini , dan bahkan terbesar di Dunia ini bermula dari pengajian-pengajian rutinan pekanan, tapi kita jangan pernah lupa akan hal ini, kekuatan dan ketahanan partai dakwah ini ditentukan seberapa solid kelompok usrah yang tersebar di penjuru daerah.

Sampai saat ini kita belum menemukan unit pembinaan kader se efektif usrah  baik pembinaan  akhlak, akidah, dan ibadah , sekaligus evaluasi amanah yang menjadi kewajiban peserta usrah tapi disisi lain semua memafhumi bahwa tantangan pada masa muasasi jauh lebih kompleks ketimbang pada saat masa tandzimi. Oleh karena itu penting sekali untuk memperhatikan kualitas usrah.

meningkatkan kualitas Usrah sebagai unit terkecil pembinaan kader. Jamaah kita selalu meng up date materi-materi halaqoh kita, kita sudah merasakan beberapakali revisi manhaj tarbiyah yang terakhir adalah manhaj 1434. Selain dari segi materi tentu saja kesehatan dalam berjalannya halaqoh juga harus menjadi perhatian, forum mutabaah murabi dan nuqoba harus mendapat perhatian khusus karena ini terkait dengan pencapaian karakteristik kader pada setiap jenjang kaderisasi.pada tingkatan usroh lah penanaman arkanul baiat yang diantaranya ukhuwah dan tahdiyah benar benar ditekankan, karena bila arkanul bait  dan karekteristik kader terpenuhi  beban- beban kerja menjadi tidak terlalu relevan untuk dipermasalahkan.

Inilah setrategi kita.

Setelah kita memastikan bahwa usroh sebagai basis kekuatan kita berjalan dengan baik , maka inilah yang setidaknya harus kita kerjakan ;

  1. Mampu menokohkan kader .

Kita harus memperhatikan sebab apa saja seseorang dapat dijadikan tokoh, setidaknya ada beberapa factor diantaranya ,tingkat pendidikan,pekerjaan tertentu, jumlah kekayaan, karena keahilan yang dimilikinya, keturunan keluaraga, dll[1].

Bila kita sudah mengetahui faktor – faktor apa saja yang dapat menjadikan seseorang tokoh, maka tugas kader adalah bekerja sekuat tenaga untuk dapat memenuhi faktro – faktor diatas tersebut. Atau merekrut orang yan sudah relative memiliki faktor- faktor tersebut diatas. Tentu saja ini adalah kerja yang tidak bisa diselesaikan dalam hitungan hari, oleh karena itu harus dimulai sesegera mungkin.

Gerakan ini dapat dimulai agar seluruh kader yang berpotensi melakukan mobilitas fertikal, masuk pada sector sector kepemimpinan publik baik sekala formal maupun informal sekecil apapun, entah kepemimpinan di warga sekitar semisal RT dan atau RW.

Jangan sampai kader kader potensial kita terjebak dalam struktural partai yang daya tampungnya sangat terbatas sekali yang bila dibiarkan maka potensi kader untuk menjadi tokoh akan menjadi sia-sia dan bahkan lebih jauh dimanfaatkan oleh pihak pihak yang tidak simpati pada gerakan dakwah.

  1. Adanya dinamisasi kader dalam melakukan beberapa hal berikut;

Setidaknya ada empat amal pelayanan umat yang  kita harus mendinamisasikan antara lain;

  1. Dakwah fardiah (dakwah perseorangan),dakwah ini adalah dakwah yang dilakukan oleh perseorangan , perlu digaris bawahi bahwa dakwah jenis ini adalah induk dari program dakwah yang lainnya. Karena pada prakteknya dakwah ini adalah dakwah yang paling sederhana tapi menjadi nyawa bagi dakwah yang lain dengan  bermodalkan niatan tulus seseorang untuk mengajak saudaranya pada kebaikan dan ini yang dilakukan oleh para nabi.
  2. Ratbul Aam. Ini adalah gerakan dakwah yang menyasar pembentukan opini publik, bahwa ide ide, gagasan, program kerja dakwah itu menajdi isu utama, disinilah kader yang menjadi tokoh mempunyai peranan penting, contoh nyata adalah bagaimana isu pentingnya pendidikan agama untuk anak-anak SD di kota Bandung, yang pada 2015 akan menjadi syarat melanjutkan pada jenjang berikutnya. Inilah hasil dari dakwah ratbul aam.
  3. Ta’awum muasasi, gerakan ini adalah gerakan tolong menolong dalam hal kebaikan terlepas dari latar belakang etnis, agama, suku dan lain lain dalam segala bidang,
  4. Struktur Partai hendaklah dikelola oleh orang yang mempunyai bidang akademis dan atau setidak – tidaknya memiliki pengalaman dibidangnya, sehingga pengelolaan program-program dakwah menjadi lebih professional dan lebih proaktif. Semisal bidang advokasi sedapat mungkin dipegang seorang Al akh yang mengambil studi hukum, dll.
  5. Hendaknya program pemberdayaan pada masyarakat itu dipilih dan dipilah berdasarkan komunitas dan atau jaringan, karena dengan berdasarkan komunitas dan jejaring ini program pemberdayaan yang digulirkan akan lebih spesifik dan akan memiliki dampak yang lebih luas.

Pada akhirnya, tujuan yang kita ingin capai dari strategi operasi diatas adalah bahwa seluruh program dakwah ini dapat di nikmati oleh semua orang dari berbagai golongan , sehingga dakwah ini menjadi gerakan yang inklusif dan pada akhirnya akan mencerminkan bahwa islam yang rahmatan lil alamiin,

2 Tanggapan to “Strategi Operasi Partai Kita; Mengokohkan Tarbawi, Menaklukan Medan Politik.”

  1. Syubhan Triyatna Sadanur 29/04/2013 pada 11:55 AM #

    Mantap Ustadz tulisannya…

    • anwaryasin 03/05/2013 pada 11:24 AM #

      mudah mudahan bisa berguna akh Syubhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: