Menghadirkan Allah Dalam Kemerdekaan Indonesia.

27 Agu

Image

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan yang luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. (pembukaan UUD 1945 alenia ke tiga.)

Makna yang hilang.

Memaknai kemerdekaan akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang  mewah karena sulit didapat, entah karena sulit untuk diupayakan atau memang karena kita semua merasa tidak penting lagi memaknai apa arti dari kemerdekaan bangsa kita.

Kemerdekaan sering kita temukan di jalan–jalan, dimana sekelompok pemuda menawarkan air kemasan untuk dibeli dengan tujuan mencari dana kegiatan tujuh belas Agustus-an, atau bahkan lebih tragis lagi hanya sekedar meminta saja.

Acara panggung sering berakhir ricuh karena pentas seni dan atau panggung hiburan selau disamakan dengan tampilnya orkes dangdut tunggal dan penonton yang mabuk dengan Alkohol, sepak bola antar kampung tidak jarang berakhir dengan tawuran antara masing-masing pendukung kampung, sebuah hasil yang jauh dari tujuan semula yang mulia, membangun persahabat dan sportifitas antara sesama anak bangsa.

Penulis tidak anti dengan perayaan kemerdekaan bangsa ini, tapi perlu berapa lama lagihkah bangsa ini terjebak selebrasi dengan miskin makna, hura-hura yang tidak jarang berakhir dengan huru-hara, padahal kemerdekaan bangsa ini dipertahankan oleh Bung Tomo dengan ucapan “Allahu Akbar” .

Mensyukuri kemerdekaan.

Kemerdekaan bangsa ini tidak hanya diraih oleh perjuangan senjata dan dipolomasi semata tapi lebih jauh bahwa semua ini hadir dikarenakan Rahmat Allah Yang Maha Kuasa, oleh karena itu semua pencapaian berupa kebebasan dalam berbangsa harus menghadirkan syukur atas rahmat Allah  SWT.

Rasa syukur ini yang mulai pudar dalam setiap gerak kita, entah dalam skala bernegara sampai kehidupan kita sehari-hari. Di satu sisi syukur membuahkan qona’ah, sebuah sikap yang membuat kita cukup atas apa yang Allah Karuniakan, rasa kecukupan inilah yang menahan kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT, korupsi misalnya.

Rasa Syukur di sisi lain menimbulkan keinginan untuk memanfaatkan karunia yang telah diberikan oleh Allah SWT dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan peruntukannya, atau dalam kontkes kemerdekaan memanfaatkannya sesuai dengan amanat Allah SWT.

Setidaknya ada tiga sebab manusia kehilangan rasa syukur kepada Allah SWT, pertama: berfokus pada apa yang diinginkan bukan apa yang dimiliki, kedua:    merasa orang lain memiliki karunia yang lebih banyak. Ketiga: merasa pencapaian yang didapat hasil dari kerja sendiri.

Untuk point pertama dan kedua masih ada pengecualian ketika ditempatkan dalam posisi usaha agar menjadi lebih baik maka itu dibolehkan walau tetap dalam  batas-batas tertentu. Namun dalam point ketiga maka itulah sesungguhnya sebab kehilangan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Ketika kita memonopoli kesuksesan atas pencapaian kita karena kerja keras pribadi semata maka disanalah awal kerusakan baik itu secara individu ataupun dalam lingkup negara. Karena pada saat yang bersamaan kita akan menafikan setiap bantuan orang lain baik secara langsung ataupun tidak langsung. Lebih jauh lagi memonopoli kesuksesan atas pencapaian sukses karena kerja keras pribadi semata akan menghasilkan sebuah kesombongan.

Bila kita sadari bahwa setiap kesempatan yang kita miliki saat ini dihasilkan oleh setiap tetes darah pejuang, maka tentunya hasil karya kita akan jauh berkualitas dari pada yang menganggap bahwa kemerdekaan negara ini sekedar kejadian kebetulan saja.

Maka pada akhirnya, mensyukuri kemerdekaan adalah memahami betul bahwa kemerdekaan bangsa ini adalah sebuah amanah yang Allah SWT berikan kepada kita rakyat Indonesia yang kelak akan Allah tagih pertanggung jawabannya, dan pada saat yang bersamaan menyadari bahwa  kita berhutang pada setiap tetes darah para pejuang bangsa ini atas semua pemcapaian yang kita raih.

Dengan mensyukuri kemerdekaan seperti diatas semoga Allah menambahkan nikmat kepada bangsa ini dan menjauhkan adzab yang pedih.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: