MELAHIRKAN PEJUANG MELALUI PESANTREN.

19 Sep

Image

“seandainya bukan karena alim ulama negara Indonesia ini sudah pasti hancur lembur”

Pesantren dalam kontruksi sosial.

Usia pesantren setua dengan penyebaran Islam  di Nusantra ini, hadirnya Islam  sudah hadir jauh sebelum negara Indonesia lahir, pesantren hadir sebagai “mesin pencetak” kader penyebar agama Islam  yang akan menyebar kesetiap pelosok daerah.

Oleh karena itu pesantren selalu terdiri dari empat unsur, Pertama. Kiyai sebagai pemimpin dan guru utama, M. Habib Chirzin mendefinisikan peran Kiyai sangat besar sekali dalam bidang penanganan iman, bimbingan amaliyah, penyebaran dan pewarisan ilmu, pembinaan akhlak, pendidikan beramal, dan memimpin serta menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh santri dan masyarakat. Dan dalam hal pemikiran kyai lebih banyak berupa terbentuknya pola berpikir, sikap, jiwa, serta orientasi tertentu untuk memimpin sesuai dengan latar belakang kepribadian kyai.

Sehingga bila ingin dikatakan bahwa unusur pertama ini lah yang menentukan keberhasilan pesantren yang diasuhnya. Penting sekali untuk memfasilitasi Kiyai dalam meningkatkan kapasitas dirinya, entah melalui beasiswa gratis, bantuan kitab, atau program lainnya yang dirasakan diperlukan oleh para Kiyai.

Kedua. santri, mereka adalah murid yang mencari ilmu pada seorang Kiyai dan biasanya tinggal disekitar kediaman sang Kiyai tersebut, mereka memenuhi kebutuahnnya masing masing secara mandiri. Ikatan santri dan Kiyai sangatlah unik, hubungan yang merepresantisakan antara anak dan orang tua, guru dan murid, dan yang paling penting adalah hubungan seseorang yang wajib menyampaikan ilmu serta murid yang wajib mencari ilmu. Sebuah hubungan yang mempunyai faktor pendorong internal di masing masing pihak.

Ketiga. Masjid dan pemondokan, tentu saja ini menjadi simbol infrastruktur dalam sebuah lembaga pendidikan, pembangunan biasanya dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan Kiayi dan Santri. Tidak jarang juga banyak masyarakat yang mewakafkan tanahnya untuk pesantren yang diyakini sebagai bentuk amal jariah, sebuah amal yang pahalanya akan terus mengalir bahkan ketika yang mewakafkannya sudah meninggal.

Keempat. Kitab-kitab klasik atau kurikulum yang diajarkan. Biasanya ini yang menjadi “ trade mark ” atau pembeda antara satu pesantren dengan pesantren yang lainnya, maka kita akan mengenal pesantren tahfidz (khusus untuk pesantren para penghafal Quran) pesantren salaf (khusus mengkaji kitab kitab klasik seperti kitab kitab fiqh, Nahwu, Sharaf, dll).Pondok Modern dimana lembaga pendidikannya menggabungkan kajian fikih dan kurikulum nasional.

Dalam perkembangannya lembaga pendidikan pesantren seperti terpinggirkan, tidak diberikan fasilitas sebagaimana mestinya bahkan dianggap sebagai lembaga kelas dua karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Walaupun anggapan itu terbukti salah karena justru perkembagan pesantren menjadi tidak terbendung, bahkan ketika pemerintah tidak memberikan kesempatan dan bantuan yang layak, pesantren tetap menunjukan kiprah sumbang asihnya pada bangsa ini. Sekali lagi pesantren menunjukan kualitas semangat perjuangannya

Membaca sejarah perjuangan bangsa Indonesia tidak mungkin memisahkan dari alim ulama dan lembaga pendidikan pesantren, bahkan sejarawan Mansyur Surya Negara mengutip pernyataan Dewes Deker yang mengatakan bahwa “seandainya bukan karena alim ulama negara Indonesia ini sudah pasti hancur lembur”.

Peperangan mempertahankan kemerdekaan di Surabaya yang hari ini kita kenang sebagai hari pahlawan nasional juga tidak lepas dari mobilisasi ulama dan para santrinya, bahkan dalam prespektif Islam  yang diwakili oleh pesantren pada saat itu memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan adalah jihad fii sabilillah.

Bahkan pesantren menjadi salah satu soko kekuatan Syarekat Dagang Islam  yang bermetamorfosis menjadi Syarekat Islam  sebuah gerakan pertama masyarakat di nusantara yang menyatukan berbagai macam suku di bumi pertiwi kita.

Di Kota dan Kabupaten Cirebon misalnya, di desa Mertapada Kulon terdapat pesantren Buntet, sebuah kompleks pesantren yang mempunyai sejarah panjang. Tidak seberapa jauh dari situ tepatnya di desa Ender terdapat pesantren Gedongan. Sementara di wilayah Cirebon Barat bagian Selatan terdapat ‘kampung pesantren’ Babakan Ciwaringin.

Di wilayah Cirebon Barat bagian Utara terdapat pesantren Dar Al-Tauhid di desa Arjawinangun, dan pesantren Al-Anwariyah di desa Tegalgubug. Terbentang di antara di antara wilayah Barat bagian Utara dan bagian Selatan, dapat ditemui dua pesantren; pesantren Tahsinul Akhlaq di desa Winong dan ’kampung pesantren’ di desa Kempek Ciwaringin. Ke Selatan sedikit, kita dapat menjumpai pesantren Balerante, Palimanan. Dari Palimanan ke arah Timur, di wilayah Plered, kita juga dapat menjumpai beberapa pesantren.

Di Cirebon Kota, juga terdapat banyak pesantren. Sebut saja beberapa diantaranya adalah pesantren Jagasatru dimana salah satu tokoh yang dikenalnya adalah KH Syarif Muhammad Yahya bin Syekh yang dikenal sebagai Kang Ayip dimana anak dari Al Habib Muhammad bin Syekh Yahya yang ketokohan beliau diakui oleh semua golongan. Bahkan beliau adalah salah satu tokoh yang memberikan semangat kepada penulis untuk berkiprah di Partai Keadilan saat itu.

Bahkan pada tahun 2004 seluruh Caleg PKS Kabupaten Cirebon mengadakan kontrak politik dengan kang Ayip dan Alhamdulillah setelah itu PKS berhasil meraih enam kursi yang sebelumnya  sama sekali tidak memiliki kursi.

Yang menariknya, para Kiyai pengasuh pesantren di Kota dan Kabupaten Cirebon memiliki hubungan darah dengan pesantren yang berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur, bukti sebagai rangkaian Islam  dalam berdakwah di pulau Jawa.

Catatan pentingnya adalah, setiap pesantren yang berdiri di tanah air kita khususnya di Cirebon ini selalu berkaitan erat dengan upaya perlawanan atas kesewenang-wenangan penjajah, bahkan sejarah mencatat pada tahun 1770 Kiyai Muqoyyim (lahir di desa Srengseng Karang Ampel Indramayu Putra Kyiai Abdul hadi  lahir pada tahun 1689 M) pendiri pesantren Buntet rela meninggalkan posisinya di Keraton Kanoman untuk melakukan perlawanan pada penjajah Belanda pada saat itu.

Pesantren dengan segala keterbatasannya terbukti memiliki daya elastisitas dalam menjawab tantangan, ketika masa perjuangan pesantren Kiyai dan para santri tidak ragu untuk terjun ke gelanggan pertempuran baik yang tergabung dalam hizbul wathan atau yang bergabung dalam Badan Keamanan rakyat yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia.

Di sisi lain Kiyai melalui pesantrennya mampu mencetak tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam perjalanan bangsa ini, contoh K.H Soleh Darat seorang guru terkemuka pada zamannya melahrikan dua tokoh penting, K.H Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, K.H Hasyim Asyari pendiri Nahdhotul Ulama keduanya bahkan sempat satu kamar. Dan jangan lupa K.H Oemar Said Cokro Aminoto mencetak Ir Soekarno yang pernah “nyantri” di tempatnya, dan bahkan pernah menjadi menantunya.

Jauh lebih revolusionir lagi ketika tahun 1920 an masyarakat masih berwacana tentang pendidikan bagi kaum hawa, Rahmah El Yunusiyyah sudah merintis pesantren pertama khusus perempuan yang dikenal sebagai Diniyah Putri Padangpanjang  dan sampai sekarang masih terus berkembang.

Pada saat ini pun Cirebon memiliki tokoh Kyai Almarhum Fuad Hasyim, seorang mubaligh kondang dari Buntet. Beliau aktif di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama yang gigih mengusung Islam sebagai rahmatan lil alamiin, bahwa Islam cocok untuk diaplikasikan disetiap segmen kehidupan, baik itu kebangsaan, bisnis, dan bahkan kesenian. Selain itu Cirebon memiliki Almarhum Kyai Yahya Masduki yang dengan gigih menyatakan bahwa persaudaraan sesama anak bangsa dan sesama manusia sama pentingnya dengan persaudaraan sesama muslim. Beliau kyai yang tetap populis, rendah hati, dan tidak berambisi untuk dirinya sendiri.

Di Indramayu kondisinya tidak jauh berbeda, perjuangan kemerdekaan pada saat itu selalu berlatar belakang perjuangan Pesantren, sebagai salah satu contoh adalah pesantren Asy-syafi’iah walaupun baru didirikan secara resmi tahun 1955 akan tetap kiprah perjuangannya sudah dimulai dan dirasakan jauh pada saat perjuangan kemerdekaan berlangusung, dan masih banyak pesantren lainya yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Oleh karena itu  agar kedepan pesantren mampu menjawab tantangan zaman, perlu kiranya pemerintah mempertemukan semangat juang pesantren yang sudah terbukti tersebut dengan berbagai macam fasilitas yang lebih memadai.  Pemerintah harus ikut serta membangun pesantren secara proaktif agar mampu meningkatkan daya bangun sosial  yang sudah dimiliki oleh pesantren sejak pertama kali berdiri.

Tentunya kedepan bantuan pada pesantren tidak terbatas pada bantuan bangunan fisik semata, harapannya ada juga bantuan yang sifatnya meningkatkan pengembangan kapasitas baik Kiyai ataupun para santrinya, penggunaan teknologi informasi yang tepat guna misalnya, seperti pelatihan mengoprasionalkan program Maktabah Syamilah, program tersebut berisi ribuan buku klasik yang akan sangat berguna baik bagi santri ataupun Kyiai.

Jadi tidak berlebihan pula bila pada saat ini kita menunggu para ulama dan santri berada di jajaran utama pemerintahan sebagai penurus perjuangan para pendahulunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: